Rabu, 01 September 2010

Ribuan Warga Sumatera Selatan Berebut Rumah Murah

Pembagian rumah murah yang digagas Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dikhawatirkan akan menjadi rebutan warga. Pasalnya, jumlah yang berminat cukup besar dari rumah murah yang tersedia.

Wakil ketua Komisi IV DPRD Sumsel Ahmad Yani mengaku khawatir dengan ramainya antrean warga yang mendaftar program rumah murah tersebut. Menurut Yani, saat ini setidaknnya terdapat 5 ribu antrean warga yang akan memperebutkan 2 ribu unit rumah murah yang akan dibangun.

"Saat ini baru ada 400 unit yang di bangun, sementara programnya sendiri ada 2 ribu unit di Jakabaring dan Keramasan, lalu yang mengantre ada sekitar 5 ribu. Kondisi ini harsu di sikapi dengan baik, jika tidak maka bisa saja terhadi kericuhan akibat perebutan rumah murah tersebut," katanya, Rabu (23/6).

Yani mengatakan untuk mengantisipasi terjadi kericuhan, program rumah murah ini di harapkan bisa berkesinambungan sehingga semua masyarakat yang mendaftar untuk mendapatkan rumah tersebut bisa terpenuhi. Selain itu seleksi rumah murah harus lebih diperketat.

Apabila program rumah murah pada tahap pertama sukses, Yani melanjutkan, maka pihaknya berharap ada program lanjutan dari pemerintah. Dengan banyaknya program rumah murah oleh pemerintah pusat, diharapkan pemerintah provinsi bisa jeli menangkap peluang itu di daerah. "Seperti rumah susun sewa, dan rumah murah lainnya, karena kita lihat permintaan rumah murah sangat tinggi di di masyarakat," kata dia.

Sebelumnya Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dalam pidato laporan pertanggungjawaban mengakui pembanguan rumah menemui banyak kendala, seperti faktor curah hujan yang tinggi yang menyebabkan konstruksi menjadi lamban dan belum terealisainya akad kredit dengan Bank Sumsel Babel. Namun demikian, kata Alex pembanguan rumah murah ini harus tetap dilaksanakan meski banyak menemui kendala.

"InsyaAllah dalam waktu dekat akan segera terealisasi akad kredit sebanyak 400 unit rumah murah," katanya.

Untuk menghindari kesan kumuh, lanjut Alex, di kawasan pembanguan rumah murah tersebut akan dibuat pembatas hijau di depan dan di sudut tertentu di lokasi rumah murah. "Fungsinya untuk menambah ruang terbuka hijau serta untuk mengurangi efek suara akibat kebisingan lalu lintas," katanya.

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Dukung Rumah Murah, Pemerintah Salurkan DAK Perumahan Mulai 2011

Pemerintah akan terus mendukung program pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dengan berencana menyalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk perumahan kepada Pemerintah Daerah mulai tahun 2011 mendatang.

Menpera Suharso Monoarfa menegaskan hal ini di Batam, Jumat (5/3). Menpera mengunjungi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Tanjung Piayu, Rusunawa Muka Kuning dan Rusunami Batam Centre.

Menpera menambahkan, pemerintah kabupaten/kota di seluruh Indonesia berhak mendapatkan dana alokasi khusus dengan syaratnya Pemkab/Pemko yang bersangkutan telah memiliki Perda Tentang Tata Ruang (RTRW) dan Perda Zonasi.

Pemerintah daerah ke depannya diharapkan memiliki peraturan daerah mengenai tata ruang serta zonasi perumahan, sehingga baik masyarakat maupun para pengusaha yang ingin membangun rumah terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat mengetahui daerah-daerah mana saja yang tidak boleh dijadikan kawasan perumahan.

Dengan dana alokasi khusus ini, kata Suharso, pemerintah menargetkan dapat membangun 200 ribu rumah di 200 kabupaten/kota per tahun. Dengan kata lain, setiap tahunnya pemerintah menargetkan pembangunan 1.000 rumah murah di satu kabupaten/kota.

Selain itu Menpera Suharso Monoarfa juga mengajak para pengusaha muda yang tergabung dalam HIPMI untuk menawarkan konsep Pra Sarana dan Sarana Dasar Pekerjaan Umum (PSDPU) perumahan
.
[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Perumnas Sulit Jual Rumah Murah

MAKASSAR--MI: Perum Perumnas Regional VII mengaku sulit menjual rumah murah, karena harga yang ditawarkan ke masyarakat tidak sesuai dengan subsidi pemerintah.

"Harga rumah murah masih sulit di tawarkan ke konsumen, karena harga yang di subsidi tidak sesuai dengan harga jual," kata General Manager Perum Perumnas Regional VII, Pertama Bangun saat meresmikan pembangunan 300 unit rumah menengah di kawasan Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Makassar, Senin (19/7).

Permasalahan harga jual rumah murah masih menjadi kendala karena hitung-hitungan Perum Perumnas untuk membuat rumah murah rata-rata Rp60-80 juta per unit, sedangkan pemerintah menetapkan harga jual Rp55 juta per unit.

"Sejumlah pengembang swasta banyak yang berteriak dengan harga jual ini, bahkan sebagian pengembang ada yang menyatakan tidak mampu lagi membangun" ucapnya.

Selain itu, lahan untuk pembangunan rumah murah juga diakui Perum Perumnas semakin terbatas, sehingga pihaknya terus membuka kesempatan bagi pihak-pihak yang memiliki lahan untuk bermitra membangun rumah murah.

"Untuk wilayah kota Makassar saja, kami kesulitan memperoleh lahan pembangunan rumah murah. Adapun kawasan Moncongloe, Makassar yang tersedia, akses prasarana dan sarananya belum memadai," ucapnya.

Dia mengharapkan, pemerintah maupun swasta bisa memberikan ruang untuk bekerjasama menyiapkan rumah murah bagi masyarakat menengah ke bawah.

"Kami telah melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan lahan pembangunan rumah bagi PNS dan TNI/POLRI. Kerjasama itu memberikan kemudahan bagi pegawai untuk bisa memperoleh kredit perumahan," ucapnya.

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Utama Gondokusumo: Properti Itu Pekerjaan Lapangan


KOMPAS.com - Utama Gondokusumo (34) adalah putra pertama keluarga Hendro Gondokusumo, pendiri perusahaan properti Intiland Development. Utama juga generasi ketiga keluarga Gondokusumo yang terjun dalam bisnis properti.

Utama yang lahir di Jakarta, 20 April 1976, mengenyam pendidikan SD Regina Pacis Jakarta sampai kelas VI SD, setelah itu Utama melanjutkan pendidikan di Anglo Chinese School di Singapura hingga tamat SMA.

Utama yang melanjutkan pendidikan Teknik Sipil di Purdue University di Amerika Serikat itu pada akhir tahun 1996 itu, kini menjabat Executive Director Business Development Intiland. Menikah dengan Audrey Lesmana (27), Utama Gondokusumo dianugerahi tiga putra, pertama kembar lelaki, Khristopher dan Preston (2), dan Renzo (2 bulan).

Lelaki yang memiliki hobi golf dan hiking ini pernah mendirikan usaha sendiri di Amerika dan Kanada, membeli rumah tua, lalu membangun kembali menjadi rumah layak jual.

Ketika terjadi krisis moneter melanda Indonesia 1998, Utama yang waktu itu melanjutkan pendidikan di Amerika, sempat bertanya kepada ayahnya, apakah dia perlu kembali ke Jakarta dan meneruskan pendidikan di Jakarta.

“Bagi saya tak masalah. Saya sudah biasa pindah, berganti suasana. Jadi bisa belajar di mana pun. Tapi Pak Hendro bilang pada saya, Utama, kamu tak usaha khawatir, kamu tetap sekolah di sana, termasuk adikmu Rina, juga akan ke sana. Pak Hendro langsung kirim dana yang cukup untuk sekolah saya sampai lulus,” cerita Utama kepada Kompas.com.

"Jadi Pak Hendro menginginkan saya belajar dengan tenang sampai selesai. Saya diminta mencari kerja di Amerika, dan kalau Pak Hendro membutuhkan saya, saya harus balik. Papa tahu kalau saya terlalu lama di sana, saya tak mau balik,” ungkapnya.

Adik Utama, Rina Gondokusumo memiliki latar belakang fisioterapi dari Kanada. Ia sempat bekerja di Kanada. Setelah menikah, Rina tinggal di San Francisco, AS bersama suaminya dan membuka usaha klinik fisioterapi.

Berikut ini wawancara Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Utama Gondokusumo, generasi ketiga keluarga Gondokusumo, di kantornya di Intiland Tower Jakarta, Senin (30/8/10) lalu.

Apa peranan Anda di Intiland saat ini?
Saat ini saya menjabat Executive Director Business Development. Tugas saya melihat Intiland mengarah ke mana, bisnis seperti apa yang dikembangkan, melihat lokasi mana yang menjadi tren ke depan, yang memiliki perkembangan yang lebih pesat. Kami juga me-review proyek-proyek eksisting yang sudah ada, apakah akan diekspansi atau mencari proyek baru. Masih banyak proyek baru yang akan kami bangun atau berkerja sama dengan mitra lain.

Intiland makin agresif. Proyek baru apa yang dikembangkan?
Untuk sementara, setelah rights issue, kami membeli tiga tanah yang relatif luas di kawasan TB Simatupang, lalu di belakang Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dan di Maja, Lebak, Banten.

Kenapa kami mengakusisi tanah-tanah itu karena kami melihat potensi yang besar di sana. Kami pilih TB Simatupang karena kawasan itu akan menjadi next CBD mengingat banyak oil and gas company berkantor pusat di sini. Di kawasan dekat Bandara, posisinya sudah jelas dekat dengan airport, dan kami buat bisnis yang terintegrasi dengan bandara.

Di kawasan TB Simatupang, kami akan membangun mix-use development di lahan seluas 7 hektar, yang terdiri dari office, apartemen, sedikit ritel. Kami tetap menggunakan arsitek Tom Wright, yang mendesain Regatta. Kami senang dengan desain Tom. Kami harap karya arsitek Tom menjadi sesuatu yang berbeda. Tom inginkan proyek ini ramah lingkungan.

Bangunan ramah lingkungan seperti apa yang dikembangkan Intiland bersama Tom Wright?
Tom mendesain dengan melihat dari jalannya matahari, panasnya di mana dan sebagainya. Sepanjang tahun ada dua kali matahari jalan, setelah itu Tom melihat dari posisi-posisi bangunan, yang kena shading otomatis lebih teduh.

Tom juga melihat dari fasad bangunan. Dia tak ingin semua bangunan dilapisi kaca, karena dengan dinding kaca, akan terasa sangat panas. Tom juga menginginkan di lahan seluas 7 ha itu, orang dari satu gedung ke gedung lainnya bisa berjalan kaki dan naik sepeda. Lahan itu juga KDB-nya rendah,sehingga akan banyak taman di sana.

Tom juga memperhitungkan penghematan listrik dan air. Misalnya jika turun hujan, airnyas bisa ditampung dan didaur ulang untuk kepentingan lainnya. Saat ini proyek di TB Simatupang masih dalam tahap desain. Kami targetkan pada kuartal I atau kuartal II tahun 2011, proyek mix-used development ini mulai dibangun, dan akan rampung antara tahun 2013-2014. Pangsa pasarnya kombinasi antyara ekspat dan orang Indonesia.

Gambaran proyek di belakang Bandara di Tangerang dan proyek Maja?
Proyek di belakang Bandara Internasional Soekarno-Hatta saat ini masih dalam tahap desain. Posisinya lebih ke arah utara Bandara, sebelum Teluknaga. Lahannya sekitar 350 hektar, dan direncanakan sampai 500 ha. Kami membangun perumahan dengan pangsa pasar dari middle-low ke middle-high. Kami juga akan membanguh ke business park di sana. Proyek ini akan dimulai tahun 2011.

Sedangkan proyek kami di Maja, Lebak, Banten seluas 1.092 hektar. Di kawasan Maja terdapat 11.000 hektar milik beberapa pengembang. Lahan ini belum dikembangkan dalam dua tahun ke dapan. Kami melihat, bagaimana kami bisa memposisikan lahan ini supaya bisa terintegrasi dengan rencana induk pemerintah setempat.

Sebelum bergabung dengan Intiland, apa yang Anda kerjakan?
Setelah lulus dari Fakultas Teknik Sipil dari Purdue University di Indiana, Amerika Serikat tahun 2000, saya diterima di salah satu kontraktor di AS. Proyek pertama saya sebagai project engineer, membangun head office perusahaan bio-tech. Setelah itu saya pindah ke perusahaan highway consultant company. Saya bekerja di Amerika Serikat kira-kira 3,5 tahun, sampai tahun 2003.

Sebagai kontraktor, saya terllibat dalam soal desain, dan banyak berhubungan dengan petugas tata kota setempat membahas desain jalan tol di sana. Kemudian saya pindah ke Kanada. Awalnya saya buka usaha kecil-kecilan dalam bisnis properti. Saya beli tanah di Toronto, tapi tidak terlalu luas, lalu saya bangun rumah. Saya beli rumah tua, lalu saya rubuhkan dan membangun kembali sebagai rumah yang modern.

Saya bekerja sebagai kontraktor, mencari sub-kontraktor dan supplier. Beberapa rumah tua yang saya beli, saya renovasi, dan saya sewakan. Dalam dua tahun di Kanada, saya mengerjakan 10 rumah dengan cara membangunkembali dan menyewakannya. Ternyata pasarnya cukup bagus. Tentu saja saya di-support ayah saya (Hendro Gondokusumo) karena beliau yang lebih tahu bagaimana membangun. Apalagi di Kanada, banyak rumah menggunakan unsur kayu.

Setelah dari Kanada, Anda kembali ke Jakarta. Anda membuka usaha sendiri?
Saya di Kanada sampai tahun 2005. Setelah itu saya balik ke Jakarta, dan mulai dengan proyek-proyek kecil di Bintaro. Ada tanah seluas 6.000m2, kerja sama dengan arsitek Jeffry Budiman. Kami menggarap tanah itu menjadi 10 rumah tinggal dengan segmen menengah atas. Setelah itu, kami membeli tanah seluas 5.000 m2 di daerah Daan Mogot dan membangun 24 rumah. Lokasinya menempel di Taman Semanan Indah dengan segmen kelas menengah.
Pak Hendro berharap perusahaan ini bisa berjalan lebih lama dari hidupnya beliau dan hidup saya. Bisa ratusan tahun seperti perusahaan lannya. Jadi saya merasa bertanggung jawab membantu Intiland maju dan bisa langgeng ke depan.
-- Utama Gondokusumo
Banyak suka-duka yang saya alami di Jakarta. Waktu pertama kali ke Jakarta, ada beberapa hal yang tak biasa saya hadapi. Kalau di Amerika dan Kanada, soal konstruksi sih sama. Tapi di Indonesia, ada hal-hal lain yang harus diperhatikan seperti bagaimana menangani masalah keamanan dan perizinan, juga menangani konsumen. Di situlah saya belajar banyak. Saat di Kanada, prosedur sudah baku. Tapi di Indonesia, segalla sesuatunya masih bisa berbeda. Tapi terus terang, situasi seperti ini bagi saya jauh lebih menantang dan lebih interesting.

Saya bekerja sendiri di Jakarta dari tahun 2005 sampai 29 Juni 2007. Saat itu Intiland melakukan restrukturisasi, di mana Lennard Ho dan saya masuk ke Intiland, selain beberapa komisaris baru.

Awalnya saya sebenarnya ingin bisnis sendiri, tapi kemudian diminta Pak Hendro supaya ikut masuk Intiland dengan suasana baru. Saya bersama tim lainnya mengembangkan Intiland ke depan. Pak Hendro ingin saya tahu bisnis Intiland ke depannya.

Rencana Intiland ke depan?
Waktu saya bersama Lennard Ho dan komisaris lainnya, bersama-sama memformulasi Intiland ke depan akan seperti apa, saya melihat portofolio, apa yang bisa di-improve, ya kami improve. Pelan-pelan kami upgrade Intiland. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1985 dan berkembang di Jakarta dan Surabaya.

Kami melihat proyek apalagi yang bisa kami improve. ??Kami menjajaki pengembangan lahan di beberapa lokasi dengan mitra kita. Salah satu yang kami kerja samakan adalah lahan seluas 20 ha di Daan Mogot, lokasinya di sebelah Taman Semanan Indah. Proyek ini mengarah ke mix-used development. Kami bekerja sama dengan dua mitra

Lalu sejak dua tahun lalu, kami melakukan studi dan mengembangkan hotel bintang dua plus, Whiz. Kami sudah mengakusisi beberapa tanah di lokasi strategis, antara lain di Yogya, Semarang (sedang dibangun) dan dua lokasi di Jakarta (daerah Kota dan Menteng), dan Surabaya (Jalan Mayjen Sungkono).

Kami targetkan Intiland akan terus mengakusisi tanah dan bekerja sama dengan pemilik tanah atau investor. Pak Moedjianto (CEO Intiwhiz) sudah bekerja sama dengan pemilik tanah dan investor di Kuta Bali. Dalam pola kerja sama ini, investor mendanai pembelian tanah dan membiayai pembangunan oleh investor, sedangkan Intiland membangun dan mengelola hotel itu.

Di Balikpapan, Intiland mendanai biaya konstruksi dan mengelola hotel. Ini pola kerja sama dengan pemilik tanah.
Tidak tertutup kemungkinan, Whiz dibuka di kota-kota lainnya di luar Pulau Jawa. Hal itu bisa dilakukan. Kami melihat kemana bisnis ini bisa dikembangkan dengan baik, tapi lebih oportunisik. Saat ini kami konsentrasi di Pulau Jawa karena populasi terbesar memang di pulau ini sehingga konsentrasi bisnis Intiland ada di Jakarta dan Surabaya.

Namun setelah bank tanah kami cukup banyak di Jakarta dan Surabaya, kami akan ekspansi ke kota-kota lainnya. Proyek residensial Graha Natura di Surabaya awal Februari 2010 sudah diluncurkan. Kami menawarkan rumah-rumah ini kepada penghuni di Graha Famili lebih dahulu dulu. Kami ingin tahu kepuasan mereka di Graha Famili, proyek perumahan kami sebelumnya, itu seperti apa, apakah kami mengelola perumahan itu dengan baik. Eh ternyata sold out. Hanya menjual kepada penghuni Graha Famili, sudah sold out. Lokasi Graha Natura memang tidak terlalu jauh dari Graha Famili. Mungkin mereka membeli untuk anak-anak atau untuk investasi.

Yang pasti, kami cukup senang. Ternyata Intiland dinilai orang dengan baik, terutama oleh customer kami.

Strategi apa yang dikembangkan Intiland?
Strateginya, kami punya lahan di banyak tempat. Kami melihat cara berpikir seperti fund manager, kami tidak menaruh telur di satu keranjang. Jadi kami punya lahan dan proyek di Jakarta tersebar di Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Pusat.

Kami beranggapan, orang dari Jakarta Utata jarang pindah tinggal di Jakarta Selatan karena mereka sudah terbiasa dengan komunitas sendiri, mereka tahu ke mana pergi dan juga mungkin dekat dengan lokasi tempat bekerja. Kami punya lokasi di beberapa tempat, supaya kalau misalnya proyek di Jakarta Utara sedang menurun, di Jakarta Selatan mungkin tidak. Kami bangun beberapa proyek sekaligus dengan target pasar berbeda.

Yang dibangun bervariasi. Kami tidak ingin melakukan head to head dengan pengembang lainnya. Kami ingin jadi compliment, terintegrasi dengan proyek lain dari pengembang lain. Kami ingin membuat daerah itu naiknya bareng-bareng. Kalau head to head, kami akan berantem dengan pengembang lain. Misalnya kalau di suatu lokasi banyak hotel bintang lima, kami akan bangun hotel bintang 3 dan 4.

Ini pekerjaan satu tim. Kami sering berdiskusi dengan pejabat dinas tata kota soal rencana ke depan bagaimana. Kami bersama CEO, project director, melihat lokasi mana yang akan ditargetkan, di sana dibangun apa. Dari situ, ada beberapa tim. Misalnya high rise dan low rise.

Kami diskusikan bagaimana cocoknya, apa cocoknya, bagaimana studi kelayakan dan risetnya, kami diskusikan apa target market-nya dengan marketing team. Kami bikin tim supaya masing-masing bagian bisa lebih berkonsentrasi pada proyek, sehingga pengambilan keputusan bisa lebih cepat.

Mengapa Anda akhirnya mau bergabung dengan Intiland?
Ya otomatislah. Biar bagaimanapun, saya dapat menjadi seperti sekarang begini, karena ayah saya dan adik kakek saya (Suhargo Gondokusumo). Saya ada di sini karena mereka. Begitu Pak Hendro minta saya, tolong saya juga ikut, saya tak bisa menolak. Saya melihat, Intiland itu dulu perusahaan cukup besar, namun karena krisis moneter 1998, semuanya turun. Namun setelah itu, Intiland bisa bertahan dan berkibar kembali. Ini pasti ada sesuatu yang luar biasa. Jadi ke depan, saya optimistis Intiland bisa tumbuh dengan baik jika dikelola dengan baik.  alasan pertama, karena permintaan ayah saya.

Kedua, karena ini adalah bisnis ayah saya yang dirintis sejak lama (1985). Pak Hendro berharap perusahaan ini bisa berjalan lebih lama dari hidupnya beliau dan hidup saya. Bisa ratusan tahun seperti perusahaan lannya. Karena itu saya tergerak. Perusahaan ini perusahaan publik, legacy bapak saya. Jadi saya merasa bertanggung jawab untuk membantu Intiland maju ke depan dan bisa langgeng ke depan.

Belum tentu saya harus menduduki posisi CEO karena ini perusahaan publik. Yang penting siapa yang paling baik mengelola perusahaan ini. Kalau saya cocok, ya saya akan ambil tanggung jawab itu. Tapi kalau tidak, saya akan mencari orang lain.

Saat ini saya mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Pengalaman tidak bisa diperoleh di sekolah. Saya belajar dari mereka yang sudah lebih dulu berhasil. Saya sering diajak Pak Hendro bertemu dengan Pak Ciputra, Pak Herman Sudarsono, Pak Tan Kian. Seneng mendengarkan cerita mereka. Saya belajar soal konsistensi. Mereka punya SOP yang baik. Meskipun njlimet, tapi karena sudah rules-nya, ya harus dijalani. Namanya properti itu ya pekerjaan lapangan. Dan pengalaman jauh lebih penting


[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

"Kue" Kontraktor kecil bakal membesar

JAKARTA: Pangsa pasar kontraktor skala kecil bisa meningkat dari 10% menjadi 15%-18% me-nyu-sul kenaikan batas pro-yek yang boleh di-garap dari Rp1 miliar men-jadi Rp2,5 miliar.

Kenaikan batas atas itu diatur dalam Perpres No. 54/2010 yang merupakan revisi dari Keppres No. 80/2003 tentang Peng-adaan Barang/Jasa pemerintah yang baru disah-kan awal bulan ini.

Ketua Badan Pengurus Pusat Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi) Soeharsojo me-ngatakan kenaikan ba-tas nilai proyek menjadi Rp2,5 miliar itu mampu mem-berikan peluang lebih tinggi bagi kontraktor skala usaha kecil dan me-nengah (UKM) untuk meningkatkan daya saingnya.

"Ini peluang bagi kontraktor kecil karena selama ini pangsa pasarnya sa-ngat terbatas. Nilai pro-yek di bawah Rp1 miliar jum-lahnya semakin sedikit," jelasnya saat dihubungi Bisnis kemarin.

Menurut Soeharsojo, saat ini sekitar 75% jumlah paket pekerjaan konstruksi mempunyai nilai kontrak di atas Rp10 miliar, sehingga hanya menjadi konsumsi kontraktor dengan kualifikasi besar yang jumlahnya hanya 5%. Adapun, sekitar 15% pasar konstruksi untuk kontraktor skala mene-ngah dengan nilai proyek Rp1 miliar-Rp10 miliar.

"Pangsa pasar proyek dengan nilai kontrak di bawah Rp1 miliar hanya 10%. Padahal 88% ang-gota kami yang berjumlah 66.000 badan usaha merupakan kontraktor kecil. Kami harap ada peningkatan pangsa pasar dengan ketentuan baru ini."

Aturan baru itu juga membatasi peran kontraktor asing pada proyek-proyek yang bersumber dana dari pemerintah baik APBN/APBD.

Kontraktor asing hanya di-perkenankan untuk meng--garap proyek di atas Rp100 miliar dibanding-kan dengan aturan sebelumnya hanya Rp50 miliar.

Proyek pengadaan barang jasa nonkonstruksi dibatasi maksimal Rp200 miliar atau naik dari batasan sebelumnya Rp100 miliar.

Adapun, jasa konsultansi oleh perusa-ha-an asing di-naikkan ba-tas-annya hing-ga Rp10 miliar dari aturan Keppres No. 80/-2003 yang hanya Rp50 miliar. (sut)

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Infrastruktur jalan di jalur mudik siap 99%

JAKARTA: Kementerian Pekerjaan Umum memastikan kesiapan jalur mudik Lebaran 2010 sepanjang 11.000 km sudah mencapai 99%, menyusul selesainya laporan 10 tim pemantau rekonstruksi, rehabilitasi, dan pemeliharaan ruas jalan nasional.

Dirjen Bina Marga Kementerian PU Djoko Murjanto mengatakan laporan tim di sejumlah ruas mulai dari Medan-Pekanbaru, Jambi-Palembang, Bandar Lampung, Banten-Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur bagian utara dan barat, Bali, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan, telah diserahkan.

Dia menjelaskan pihaknya telah menyelesaikan pengerjaan rekonstruksi, rehabilitasi, dan pemeliharaan ruas-ruas jalan jaringan jalan nasional, kecuali pekerjaan pembangunan yang ditarget selesai pada tahun depan, seperti flyover Gebang-Cirebon.

Meski demikian, papar Djoko, kesiapan infrastruktur Lebaran 2010 diperkirakan belum mampu mengatasi kemacetan seiring dengan peningkatan aktivitas masyarakat menjelang hari raya itu.

“Kemacetan memang tidak akan hilang sama sekali, mengingat masa mudik Lebaran 2010 ini lebih pendek yang puncaknya diperkirakan pada H-3. Namun, kami memastikan sepanjang 11.000 km jaringan jalan nasional mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi telah siap dilalui,” katanya, hari ini.

Menurut Djoko, kemacetan lebih disebabkan oleh peningkatan aktivitas lalu lintas, bukan karena infrastruktur yang kurang mendukung, karena pada dasarnya pemerintah mendesain jalan nasional didasarkan pada tingkat beban rata-rata per tahun.

“Jika pembangunan jalan didesain khusus untuk melayani angkutan mudik Lebaran, akan berimplikasi pada pengalokasian anggaran yang sangat besar, sementara sifat penggunaannya hanya satahun sekali atau bersifat musiman,” ujarnya.(jha)

[Sumber: Dari sini ]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)

Sejarah rumah Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa "penculikan" yang dilakukan oleh sejumlah pemuda (a.l. Adam Malik dan Chaerul Saleh) dari Menteng 31 terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa atau lebih tepatnya diamankan ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi.

Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong.

Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka.

Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur.

Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya "diambil") dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor Laut Dr. Kandeler.

Peristiwa Rengasdengklok & Rumah Bersejarah Babah Djiaw yang Terlupakan
Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa "penculikan" yang dilakukan oleh sejumlah pemuda (a.l. Adam Malik dan Chaerul Saleh) dari Menteng 31 terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa atau lebih tepatnya diamankan ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi.

Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis, 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong.

Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka.

Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur.

Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya "diambil") dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor Laut Dr. Kandeler.


naskah dibuat
di Rengasdengklok

Di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda di Jl Imam Bonjol , Jakarta Pusat. Naskah proklamasi dirumuskan dan diketik oleh Sayuti Melik
Hasil naskah dibacakan di Pegangsaan timur no.56


Latar belakang
Pada waktu itu Soekarno dan Moh. Hatta, tokoh-tokoh menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI, sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang.

Sebelumnya golongan pemuda telah mengadakan suatu perundingan di salah satu lembaga bakteriologi di Pegangsaan Timur Jakarta, pada tanggal 15 Agustus. Dalam pertemuan ini diputuskan agar pelaksanaan kemerdekaan dilepaskan segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang. Hasil keputusan disampaikan kepada Ir. Soekarno pada malam harinya tetapi ditolak Soekarno karena merasa bertanggung jawab sebagai ketua PPKI.

Para Pemuda Pejuang di Rengasdengklok
Beberapa orang pemuda yang terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok ini antara lain:

1. Soekarni
2. Jusuf Kunto
3. Chaerul Saleh
4. Shodancho Singgih, perwira PETA dari Daidan I Jakarta sebagai pimpinan rombongan penculikan.
5. Shodancho Sulaiman
6. Chudancho Dr. Soetjipto
7. Chudancho Subeno sebagai pemimpin Cudan Rengasdengklok (setingkat kompi). Chudan Rengasdengklok memiliki 3 buah Shodan (setingkat pleton) yaitu Shodan 1 dipimpin Shodancho Suharjana, Shodan 2 dimpimpin Shodancho Oemar Bahsan dan Shodan 3 dipimpin Shodancho Affan.
Honbu (staf) yang dipimpin oleh Budancho Martono.

 



Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)