Selasa, 30 November 2010

Right Issue Lippo Karawaci Danai Bisnis Perumahan, Mal, RS

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) hari Senin (29/11/10) ini mengumumkan, 99,8 persen pemegang saham telah menyetujui permohonan rights issue LPKR senilai Rp2,379 triliun untuk mendanai strategi bisnis rumah sakit, mal, dan penjualan perumahan, pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) hari ini.

Sebanyak 14.274.258.445 saham telah terwakili pada RUPSLB ini dimana 99,8 persen suara memberikan persetujuan atas permohonan rights issue.

Berdasarkan rights issue tersebut, pemegang saham LPKR yang ada akan diberikan hak pro rata atas saham baru sejumlah 4,3 juta saham pada harga Rp550 per saham. Pemegang saham yang memiliki 100 lembar saham akan diberi hak atas 25 saham baru pada harga Rp550 per saham. Rights issue ini diharapkan akan selesai pada 27 Desember 2010.

Dengan tambahan penerbitan 4,3 miliar saham baru, total jumlah saham yang beredar akan meningkat menjadi 21,63 miliar saham. Rights issue ini juga akan meningkatkan jumlah total dana pemegang saham LPKR senilai Rp2,379 triliun atau 45,2 persen menjadi Rp7,64 triliun.

Hasil rights issue ini akan sepenuhnya diinvestasikan untuk mendanai pengembangan bisnis residensial, mal dan rumah sakit serta modal kerja secara umum. Hal ini akan mendorong peningkatan pendapatan dan shareholders’ value.

Rights issue ini akan dikelola dan dijamin oleh Ciptadana Securities dimana seluruh dana telah diterima di rekening LPKR dari hasil penempatan saham pada Selasa, 19 Oktober 2010. LPKR juga menunjuk CLSA Asia-Pacific Markets dan Morgan Stanley sebagai penasihat keuangan (co-financial advisers) pada rights issue ini.

Tujuan rights issue

Rights issue LPKR akan mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut. Pertama, transformasi LPKR dari perusahaan properti senilai US$3 miliar menjadi US$8 miliar dalam jangka waktu 5 tahun. Kedua, globalisasi pemegang saham LPKR dan basis investor.

Ketiga, secara signifikan meningkatkan free float saham LPKR, dan juga likuiditas saham. Keempat, meningkatkan posisi terdepan LPKR sebagai pemimpin dalam industri properti Indonesia, memperkuat posisi sebagai perusahaan properti terbesar dalam hal pendapatan, laba bersih, total aset, kapitalisasi pasar dan basis modal.

Jos Parengkuan, Presiden Direktur PT Syailendra Capital, menyatakan, "Penempatan dana pada bulan Oktober dan rights issue ini mencerminkan bahwa Lippo memiliki akses yang bagus terhadap pasar serta dukungan yang terus meningkat dari para investor. Mereka telah bekerja keras guna memperoleh dukungan investor. Rights issue ini akan memungkinkan mereka untuk menciptakan nilai tambah melalui bisnis rumah sakit, mal dan penjualan perumahan. Selamat bagi Lippo Karawaci."

Ketut Budi Wijaya, Presiden Direktur Lippo Karawaci mengatakan, "Saya gembira dengan dukungan yang luar biasa dari para pemegang saham. Pada kenyataannya hal ini merupakan suatu mandat untuk mencapai strategi transformasi menuju USD8 miliar untuk memperkuat pertumbuhan kami di bisnis residensial, rumah sakit, mall, dan fund management. Kami telah mantap memasuki tahun 2011 dengan posisi yang kuat serta mandat dari para pemegang saham."

Peringkat naik

Baru-baru ini Lippo Karawaci mengumumkan, Standard & Poor’s (S&P) telah menaikkan peringkat kredit LPKR dan juga peringkat atas obligasi perusahaan menjadi "B+" dengan outlook ‘stabil’. S&P memberikan penghargaan kepada LPKR atas "perbaikan lingkungan operasional, penjualan residensial yang kuat serta kontribusi yang baik dari bisnis healthcare dan hospitality LPKR, yang semakin stabil," dan menurut mereka "mengurangi pengaruh siklus dan risiko eksekusi pada bisnis pengembangan properti."

Lippo Karawaci merupakan perusahaan properti terbesar di Indonesia berdasarkan pendapatan, laba dan aset. Lippo Karawaci juga merupakan satu-satunya perusahaan properti besar di Asia yang mendapat peringkat dari lembaga pemeringkat dunia seperti Moody’s, Fitch Ratings (Fitch), dan Standard & Poor’s (S&P), dengan peringkat masing-masing B1, B+ dan B+.

Hal ini sangat unik dan tidak biasa yang akan membuka pintu bagi Lippo Karawaci ke tingkat global untuk mendapatkan pendanaan dengan jangka waktu yang lebih panjang, dan biaya yang lebih rendah dari pendanaan jangka pendek untuk proyek-proyek di Indonesia.

Peningkatan peringkat akan berdampak positif bagi LPKR yang tengah mengusulkan obligasi global lima tahun senilai USD100 juta yang telah diumumkan pada 19 Oktober 2010, untuk membiayai kembali obligasi yang akan jatuh tempo Maret 2011, dan diharapkan akan menghasilkan penghematan kumulatif sebesar 2-5 persen bagi perusahaan dalam lima tahun.

Bank investasi global Citigroup Capital Markets dan Deutsche Bank telah ditunjuk untuk memimpin dan menjamin obligasi ini yang akan dilepas ke pasar awal tahun depan setelah mendapat persetujuan dari para pemegang saham dan regulasi yang berlaku. Penerbitan ini diharapkan dapat diterima dengan baik oleh pasar.

Hasil dari penerbitan obligasi ini akan sepenuhnya digunakan bagi pembiayaan kembali obligasi LPKR yang jatuh tempo pada Maret 2011 serta mendanai pertumbuhan transformasi model bisnis LPKR.

Status peringkat LPKR, saat ini menginjak tahun kelima, juga merupakan pengakuan atas disiplin serta tata kelola keuangan dan perusahaan LPKR yang baik, termasuk rasio utang terhadap modal yang rendah yang diharapkan akan menguat menjadi 0,46 setelah penambahan modal baru dari rights issue senilai Rp2,379 triliun, serta total pinjaman yang rendah sebesar 5x EBITDA. Hal ini berarti total pinjaman LPKR setara dengan kurang dari cash flow selama lima tahun.

Garis terdepan

Lippo Karawaci berada di garis terdepan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan proyeksi pertumbuhan melebihi enam persen per tahun. Hal ini tercermin dari kinerja yang kuat di seluruh unit strategis Perseroan.

Dengan pendapatan per kapita yang akan melewati US$3.000 per tahun, penjualan residensial/township akan sangat menjanjikan, dan meningkatnya permintaan akan layanan kesehatan yang berkualitas di Indonesia akan mendorong pertumbuhan kelompok rumah sakit Perseroan.

Dengan perlambatan prospek ekonomi AS dan dunia Barat tiga tahun ke depan, dana global akan memindahkan portofolio investasinya ke pasar negara berkembang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Koreksi di China dan India telah memposisikan Indonesia sebagai pilihan teratas, mendorong likuiditas modal investasi untuk mencari investasi berkualitas. Perkembangan ini telah mendorong investasi asing langsung di Indonesia, dan di BEI, secara signifikan meningkatkan cadangan devisa dan meningkatkan kekuatan Rupiah.

Meningkatnya investasi dan infrastruktur, deregulasi, dan desentralisasi pertumbuhan ke daerah telah mendorong pertumbuhan riil PDB lebih dari 6 persen per tahun. Pendapatan per kapita sekarang siap untuk melewati US$3.000 per tahun dalam 12 bulan ke depan, menciptakan pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi.

Sektor properti Indonesia akan menjadi proxy yang sangat baik bagi pertumbuhan Indonesia, dengan proyeksi jauh melebihi pertumbuhan rata-rata GDP nasional. Di sektor properti yang terfragmentasi, hanya segelintir perusahaan properti yang mampu menjawab tantangan dan peluang. Lippo Karawaci, dengan visi, profesionalisme, semangat kewirausahaan, dan divisi usaha yang solid telah memimpin di garis depan perkembangan positif ini.

Pada Jumat 22 Oktober 2010, LPKR mengumumkan pembagian dividen interim pada kuartal ketiga yang berakhir 30 September 2010 yang didukung pertumbuhan ekonomi, penjualan residensial dan township yang meningkat, serta produktivitas yang lebih tinggi. Pendapatan kuartal ini meningkat 27 persen menjadi Rp765,8 miliar sedangkan laba bersih naik 29 persen menjadi Rp127,7 miliar.

Selama sembilan bulan operasi sampai tanggal 30 September 2010 pendapatan LPKR mencapai Rp2.228,8 miliar dan laba Rp348,7 miliar, masing-masing meningkat sebesar 13,6 persen dan 13,2 persen. LPKR mengharapkan pencapaian kuartal keempat 2010 yang solid, serta pendapatan dari proyek-proyek dan laba bersih Perseroan pada akhir 31 Desember 2010 akan mencapai Rp3 triliun dan Rp524 miliar, masing-masing meningkat 17 persen dan 35 persen dibandingkan tahun 2009.

Seluruh divisi usaha LPKR mencatatkan pertumbuhan yang memuaskan pada kuartal ini dengan kinerja luar biasa di divisi usaha residensial/township dimana pendapatan meningkat sebesar 50,5 persen menjadi Rp352,7 miliar. Pendapatan divisi usaha rumah sakit naik 12,5 persen sedangkan bisnis retail mall menorehkan peningkatan pendapatan sebesar 15 persen.

Meskipun masih merupakan bagian yang relatif kecil dalam group LPKR, divisi manajemen aset mencatat kenaikan 63 persen dari pendapatan manajemen fee. Pendapatan recurring Lippo Karawaci terus meningkat dan merupakan 52 persen dari total pendapatan Perseroan pada kuartal ini.

Lippo Karawaci adalah perusahaan properti terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah aset, pendapatan, laba bersih dan kapitalisasi pasar, diperkuat dengan land bank yang luas dan basis pendapatan recurring yang kuat. Divisi usaha LPKR meliputi Residential/Township, Retail Malls, Hospitals, Hotels dan Asset Management. LPKR tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kapitalisasi pasar senilai Rp11,9 triliun.

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)
Pengen punya rumah sendiri? kini bukan hal yang susah. klik DISINI semua jadi mudah !

Enam Negara APMCHUD Tindak Lanjuti Deklarasi Solo

NUSA DUA, BALI - Enam negara yang bergabung dalam Biro Ke-3 Konferensi Menteri Perumahan dan Urbanisasi Asia Pasifik (APMCHUD) sepakat menindaklanjuti Deklarasi Solo, melalui penguatan kelompok kerja. Kesepakatan diambil dalam Rapat Pertama Biro Ke-3 APMCHUD di Nusa Dua, Bali, 29 November 2010.

Deklarasi Solo ditetapkan bulan Juni yang lalu dalam Konferensi APMCHUD di Solo, dan pada dasarnya mendorong pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perumahan dan urbanisasi.

APMCHUD merupakan forum komunikasi yang didirikan 68 negara kawasan Asia Pasifik pada tahun 2006 di New Delhi, dengan dukungan UN-Habitat, dan telah menghasilkan tiga deklarasi, termasuk Deklarasi Solo.

Forum ini berkonferensi setiap dua tahun sekali, diselingi beberapa Rapat Biro. Pada konferensi di Solo, Indonesia ditetapkan sebagai Ketua Biro APMCHUD Ke-3, dan negara-negara anggota pun mengambil keputusan untuk meneruskan kegiatan Kelompok Kerja.

Adapun Deklarasi Solo merupakan rumusan pembahasan yang dilakukan oleh lima Kelompok Kerja – masing-masing mengusung isu spesifik dalam pembangunan perumahan dan urbanisasi.

Rapat Biro APMCHUD
“Pada Rapat Pertama Biro APMCHUD Ke-3, kegiatan dan keberlanjutan Kelompok Kerja menjadi pokok pembahasan yang penting,” ungkap Ketua Biro APMCHUD Ke-3, Suharso Monoarfa, yang juga merupakan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia. “Biro memutuskan untuk mendorong tindak lanjut Deklarasi Solo melalui kelima Kelompok Kerja APMCHUD.”

Kelompok Kerja yang pertama mengurus Perencanaan dan Manajemen Perkotaan dan Pedesaan. Disadari, peran serta masyarakat penting mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pembangunan perumahan, terlebih-lebih di daerah perkotaan yang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Kelompok Kerja yang kedua mengurus Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh dan Informal. Agar dapat berperan aktif secara efektif, masyarakat yang menempati atau hendak menempati permukiman kumuh perlu diberdayakan dalam berbagai segi kehidupan, termasuk di dalam ekonomi perkotaan (urban economy).

Adapun Kelompok Kerja yang Ke-3 mengurus Pencapaian MDG dalam Bidang Air Bersih dan Sanitasi. Berbagai proyek peningkatan infrastruktur air bersih dan sanitas menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat pada tingkat rasa memiliki untuk menjaga kesinambungan penyediaan air bersih dan fasilitas sanitasi.

Kelompok Kerja yang keempat mengurus Pembiayaan Perumahan yang Berkelanjutan. Berbagai negara APMCHUD memiliki program pembiayaan yang berpihak kepada masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah yang sukses dan tukar-menukar pengalaman serta informasi menjadi kegiatan penting yang didorong oleh Kelompok Kerja ini.

Kelompok Kerja yang kelima mengurus Pembangunan Perkotaan dengan Fokus Bencana Alam. Beberapa negara APMCHUD baru-baru ini mengalami bencana alam dan kemudian memiliki pengalaman menangani pembangunan kembali sektor perumahannya. Lebih jauh, ada beberapa kota di negara-negara APMCHUD yang lebih rentan terhadap perubahan iklim dunia. Karena itu, Kelompok Kerja ini mendorong kerja sama dalam bidang penanganan bencana alam dalam pembangunan perumahan dan perkotaan.

"Pada Rapat Pertama Biro APMCHUD Ke-3 di Bali ini,” jelas Suharso Monoarfa, “negara-negara anggota telah mengambil inisiatif untuk memimpin pengembangan Kelompok Kerja.

Republik India diharapkan akan mengkoordinasikan kegiatan Kelompok Kerja yang Pertama. Republik Islam Iran diharapkan akan memimpin pengembangan Kelompok Kerja yang Kedua. Republik Korea diharapkan akan mengatur perkembangan kegiatan Kelompok Kerja yang Keempat. “Adapun Indonesia diharapkan akan mengkoordinasikan kegiatan Kelompok Kerja yang Ketiga dan yang Kedua.”

Perkembangan APMCHUD
Rapat ini juga membahas perkembangan APMCHUD sendiri. Delegasi para negara anggota sepakat untuk membina hubungan dengan organisasi dan jaringan yang juga mendorong pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan dan urbanisasi, baik di tingkat internasional maupun di dalam negeri negara-negara APMCHUD.

“Dengan demikian,” ungkap Suharso Monoarfa, “efektivitas dan efisiensi gerakan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan dan urbanisasi dapat ditingkatkan.”

Pimpinan Delegasi Republik Indonesia, Iskandar Saleh, yang juga merupakan Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat Republik Indonesia, menjelaskan. “Kita dan berbagai negara APMCHUD telah memiliki kelompok kerja, forum dan jaringan yang bergerak dalam bidang pembangunan perkotaan dan urbanisasi. Misalnya saja, Indonesia telah memiliki Pokja AMPL yang menangani air minum dan pelestarian lingkungan, yang menghimpun berbagai unsur masyarakat, pemerintah dan swasta, serta mendorong pengembangan sinergi berbagai program terkait.”

Rapat Pertama Biro APMCHUD Ke-3 di Nusa Dua, Bali telah menghasilkan berbagai keputusan penting bagi perkembangan APMCHUD. Rapat berikutnya direncanakan akan berlangsung pada pertemuan UN Habitat Governing Council di Nairobi, April 2011.


Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)
Pengen punya rumah sendiri? kini bukan hal yang susah. klik DISINI semua jadi mudah !

Walmart Kuasai Perusahaan Ritel Afsel

JOHANNESBURG - Walmart Stores Inc. mengajukan penawaran sebesar US$ 2,1 juta untuk mengakuisisi perusahaan ritel Afrika Selatan Massmart.

Dalam siaran persnya Senin (29/11), Walmart akan membeli 51 persen saham Massmart dengan harga sebesar 148 rand per saham. Berdasarkan perhitungan Reuters, total nilai pembelian itu mencapai US$ 2,13 juta.

Dengan mendekap 51 persen saham itu maka Walmart akan menjadi pemegang saham mayoritas perusahaan Massmart. Namun, transaksi ini dikhawatirkan akan mendapat perlawanan dari organisasi buruh Afrika Selatan.

[Sumber: http://properti.kompas.com/index.php/read/2010/11/29/2005234/Walmart.Kuasai.Perusahaan.Ritel.Afsel-12]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)
Pengen punya rumah sendiri? kini bukan hal yang susah. klik DISINI semua jadi mudah !

Sarinah Buka Lima Gerai Pada 2011

JAKARTA -  Prospek bisnis department store yang menjual aneka produk etnik khas Indonesia semakin cerah. Pariwisata yang tumbuh serta perbaikan ekonomi menjadi faktor pendukung bisnis ini. Karena itulah, PT Sarinah Persero tak ragu melancarkan ekspansinya tahun depan.

Jimmy Gani, Presiden Direktur Sarinah, mengungkapkan, tahun depan Sarinah berniat menambah tiga gerai baru di dalam negeri. Selain itu, Sarinah juga akan membuka dua gerai baru di luar negeri.

Untuk menutup tahu ini, di Desember 2010, Sarinah juga berniat membuka satu gerai baru di Pejaten Village. Gerai Sarinah di Pejaten Village mencapai 600 meter persegi (m2). "Daya beli masyarakat yang meningkat membuat kami yakin bisnis department store yang sarat unsur etnik semakin diminati," tutur Jimmy.

Pembukaan gerai baru di Pejaten Village sekaligus menambah jumlah gerai Sarinah menjadi enam gerai. Gerai Sarinah sebelumnya terletak di Thamrin Jakarta, Batam, Yogyakarta, Pejaten, dan Semarang.

Selain menambah gerai, Sarinah juga melakukan renovasi demi memikat pengunjung. Dengan renovasi ini, luas gerai Sarinah di Thamrin yang setinggi tujuh lantai akan mencapai 10.000 m2.

Renovasi di Thamrin dilakukan dengan mengambil sebagian lahan eks ToniJack's seluas 200 m2 di lantai dasar. Kemudian, Sarinah juga mengambil sebagian lahan di lantai dua. "Jadi nanti toko semakin banyak yang menghadap ke Thamrin," jelas Jimmy.

Gerai di Thamrin ini akan menjadi yang terbesar di antara semua gerai Sarinah. Jimmy menjelaskan, luas gerai Sarinah di Malang mencapai 2.000 m2, di Batam 2.000 m2, di Yogyakarta 800 m2, dan Semarang 300 m2.

Namun, Jimmy menegaskan, program renovasi ini tak akan mengubah konsep dan target pasar Sarinah, yakni kelas menengah ke atas. Sarinah pun tetap mengedepankan konsep etnik yang dipadu dengan tren masa kini. Sebanyak 95 persen dari produk di Sarinah juga berasal dari dalam negeri.

Pendapatan tumbuh 20 persen
Menurutnya, untuk renovasi, Sarinah sudah menganggarkan bujet Rp 10 miliar. Sayang, Jimmy enggan membocorkan investasi yang dianggarkan untuk membuka gerai baru.

Yang jelas, Jimmy menargetkan, tahun depan, pendapatan Sarinah akan tumbuh 20 persen dari target pendapatan tahun ini yang sekitar Rp 300 miliar. Sebesar 50% dari pendapatan ini disumbang oleh bisnis ritel.

Sementara sebanyak 30 persen pendapatan berasal dari bisnis perdagangan, termasuk impor minuman alkohol. Adapun sisa 20 persen disumbang dari bisnis penyewaan properti. Jimmy mengakui, ekspansi bisnis ritel merupakan salah satu strategi Sarinah mengantisipasi kontribusi bisnis impor minuman alkohol yang semakin berkurang.

Selain Sarinah, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP) juga melihat bisnis ritel yang memamerkan sebagian besar produk lokal sebagai bisnis yang menarik. MAP masuk ke bisnis ini lewat gerai Alun Alun Indonesia. "Gerai ini bertujuan memanjakan konsumen lewat inovasi dan kreasi Indonesia," ujar Fetty Kwartati, Sekretaris Perusahaan MAP belum lama ini.

Hingga kini, MAP mengoperasikan lima gerai Alun Alun Indonesia. Kelima gerai ini terletak di Grand Indonesia, Sogo Bali Collection, Sogo Plaza Senayan, Sogo Central Park, dan Bandara Soekarno Hatta. Di gerai ini, Alun Alun Indonesia memamerkan barang antik, suvenir, batik, produk spa, fesyen dari desainer Indonesia, barang seni, perhiasan, dan buku.

Gerai di Thamrin menjadi yang terbesar di antara semua gerai Sarinah. Luas gerai Sarinah di Malang 2.000 m2, di Batam 2.000 m2, di Yogyakarta 800 m2, dan Semarang 300 m2.


Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)
Pengen punya rumah sendiri? kini bukan hal yang susah. klik DISINI semua jadi mudah !

Kamar Anggun Dibangun dari Warna Turunan

Manfaatkan dinding, plafon, lantai, dan furnitur kamar sebagai "agen warna".  Kombinasi warna-warna itulah yang membuat kamar lebih indah bagian dari bahasa alam. Saat cahaya matahari menerpa benda, pantulannya memancarkan warna pada lingkungan sekitarnya,  termasuk di dalam kamar.

Untuk kamar yang aktivitasnya lebih ke arah kebutuhan privasi, maka warna yang bisa digunakan adalah warna-warna yang menenangkan atau yang kontemplatif.

Kamar yang nyaman adalah sebuah resultan dari berbagai faktor. Salah satu faktor yang terpenting adalah warna. Bagaimana sih cara menciptakan sebuah kamar yang warnanya bisa dinikmati?

Jawabannya: kembali kepada aktivitas yang kita lakukan di dalamnya.

Untuk kamar yang aktivitasnya lebih ke arah kebutuhan privasi, maka warna yang bisa digunakan adalah warna-warna yang menenangkan atau yang kontemplatif.

Pemilihan warna ini berbeda dapat diterapkan pada  ruang-ruang yang menjadi tempat berinteraksi. Warna yang memiliki  kombinasi dua warna dominan bisa jadi pilihan.

Pada kamar, warna yang menenangkan  dibutuhkan untuk mendapat suasana nyaman dan santai. Warna coklat, misalnya, memberikan kehangatan di dalam ruang.

Warna coklat semakin memikat saat dikombinasikan dengan warna-warna turunan. Warna turunan adalah warna-warna yang berasal dari warna induk yang dominan, yaitu coklat tadi.

Berubahnya warna turunan bisa dilakukan dengan menambahkan salah satu unsur warna dasar lain secara tetap. Misalnya, kita tambahkan warna coklat dengan putih sehingga warna coklat berubah tambah muda. Warna turunan ini bisa diaplikasikan pada elemen interior lain.

Contoh, kamar di foto misalnya. Warna dominan adalah coklat muda di dinding, lalu warna tirai dipilih yang lebih muda, tetapi terlihat tetap padu. Warna termuda yaitu putih menjadi pembatas bidang horizontal ruang (atap dan lantai).

Warna coklat bisa jadi pemanis yang memberi sentuhan akhir kombinasi warna kamar. Headboard coklat  menjadi latar dipan–furnitur utama di kamar–sehingga aktivitas utama, yakni tidur, menjadi terasa kuat. Wajar toh, karena tidur adalah aktivitas utama di kamar.

Anda bisa memainkan pola-pola warna turunan di ruang-ruang yang lain. Syaratnya, petakan aktivitas, mana yang harus dibikin gelap (biasanya ruang yang lebih privat) dan  ruang yang lebih terang (untuk aktivitas yang membutuhkan konsentrasi).

Tips terakhir,  jangan takut mencoba!

[Sumber: http://properti.kompas.com/index.php/read/2010/11/30/11133481/Kamar.Anggun.Dibangun.dari.Warna.Turunan-12]

Cari Rumah ?? Gak perlu 123, Hanya KITA Ahlinya  :-)
Pengen punya rumah sendiri? kini bukan hal yang susah. klik DISINI semua jadi mudah !